PERSIAPAN PACIFIC ENDEAVOR

Red. by Berliani (Internet)   

Staf FORUM

         Pada tahun 2013, gempa bumi dahsyat memorakporandakan seluruh Pasifika, meruntuhkan bangunan dan merobohkan jaringan listrik serta jaringan komunikasi massa. Operator radio yang tersebar di seluruh kawasan Indo Asia Pasifik mulai dari Nepal dan Afghanistan sampai ke Jepang dan Amerika Serikat, beberapa di antaranya, berlindung dengan peralatan mereka, dengan memantau transmisi dari ribuan kilometer jauhnya.


Setiap operator mencoba menyiarkan potongan-potongan informasi mengenai negara Pasifika yang terkoyak gempa untuk membantu mengoordinasikan upaya bantuan. Daya listrik terputus-putus. Suara-suara terdengar bermunculan melalui gangguan statis, kemudian benar-benar menghilang. Meskipun ada tantangan-tantangan ini, sekitar 60 stasiun amatir mampu menjalin sebuah jaringan komunikasi radio siaran langsung untuk menyediakan informasi kepada kelompok militer internasional yang memberikan bantuan dalam gempa bumi berkekuatan 8.0.

Pemandangan ini adalah biasa ketika terjadi bencana alam, di mana militer dan pemerintah berjuang untuk menolong. Dalam hal ini, Pasifika tidak eksis, dan bencana tersebut merupakan skenario hipotetis yang dibuat. Operator radio Sanjeeb Panday mempertahankan komunikasi dengan stasiun lainnya dalam latihan tiga jam. Ia membawahi stasiun Pasifika fiktif yang berada di Nepal dalam lokakarya ini. “Saat ini, saya merasa seperti saya telah mendaki Everest,” Panday, seorang profesor perguruan tinggi, berkata kepada para Tentara dari Sistem Radio Tambahan Militer Angkatan Darat A.S.

Upaya-upaya para operator radio peserta menekankan kebutuhan untuk memelihara komunikasi yang efektif dan efisien di antara negara-negara di kawasan Indo Asia Pasifik ketika terjadi bencana berskala besar. Dari tahun 2008 sampai 2012, lebih dari 279.000 orang di kawasan Indo Asia Pasifik tewas karena bencana alam, menurut Badan Pengembangan Internasional A.S.

Komunikasi efektif sangat penting bagi operasi militer selama bencana. Dalam laporan lokakarya Pacific Endeavor 2012, Letkol H. Justin Pickett dari Angkatan Darat A.S., sekarang purnawirawan, menekankan pentingnya antaroperabilitas komunikasi dan kemitraan organisasi di antara negara-negara. Latihan radio amatir yang diikuti oleh Panday hanya mewakili satu dari serangkaian latihan yang dilaksanakan selama Pacific Endeavor 2013 (PE13), yang diselenggarakan bersama oleh Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand dan Pacific Command (PACOM) atau Komando Pacifik A.S. pada bulan Agustus 2013. Pacific Endeavor, yang dimulai pada tahun 2004, adalah sebuah lokakarya komunikasi tahunan yang berfokus pada berbagi informasi, pembinaan kemampuan, dan kesesuaian peralatan untuk menjamin bahwa para pemerintah kawasan ini, kekuatan militer, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dapat bekerja bersama untuk menanggapi bencana dan menyediakan bantuan kemanusiaan. Pacific Endeavor bernaung di bawah Multinational Communications Interoperability Program (MCIP) atau Program Antaroperabilitas Komunikasi Multibangsa, yang menetapkan sebuah proses untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan antaroperabilitas komunikasi di antara para negara anggota. Target utama MCIP ialah memastikan antaroperabilitas peralatan militer, seperti radio, satelit, telepon, dan komunikasi dunia maya.

PE 2014 di Nepal

Pacific Endeavor meliputi tiga lokakarya staf yang diadakan pada sepanjang tahun yang ditetapkan yang puncaknya pada acara berskala besar setiap bulan Agustus. Nepal akan menjadi tuan rumah PE14, yang akan berlandaskan pada lokakarya tahun sebelumnya.

Angkatan Darat Nepal telah meminta penyelenggara PE14 untuk membangun sebuah skenario yang melibatkan sebuah gempa bumi yang dahsyat untuk menguji infrastruktur komunikasi negara ini dan bagaimana Tentaranya akan meneruskan informasi untuk bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana. Nepal berada di urutan ke-11 dunia dalam kerentanannya terhadap gempa bumi, menurut laporan Program Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2012.

Para peserta PE14 akan berlandaskan pada pelajaran-pelajaran yang didapat selama lokakarya PE12 di Singapura, di mana sistem telepon, radio, dan satelit diuji. Mereka akan menilai sistem komunikasi setiap negara peserta dan memperbarui taktik, teknik, dan prosedur komunikasi multinasional untuk penanggapan bencana.

Sekitar 20 negara Asia Pasifik, LSM, dan pakar komunikasi akan menghadiri lokakarya dua-minggu di Kathmandu. Para peserta pertahanan jaringan komputer akan mendiskusikan presentasi tentang peralatan Protokol Internet, manajemen spektrum radio, dan komunikasi satelit selama lokakarya, yang akan berpuncak dalam tanggapan operasional sesungguhnya dalam skenario gempa bumi yang menumbangkan kota-kota Nepal.

Pada PE13, lebih dari 300 pakar komunikasi dari 22 negara Asia Pasifik, bersama dengan lembaga-lembaga P.B.B., LSM, akademisi, dan profesional industri, menghadiri lokakarya dua-minggu di Chonburi, Thailand.

PE13 membentuk hubungan saling pengertian dan memperkuat ikatan di antara negara dan militer yang berpartisipasi. Topik-topik yang dibicarakan dan latihan-latihan yang diadakan selama lokakarya tidak hanya mendemonstrasikan kerja sama multilateral selama krisis tetapi juga menunjukkan kepada pemerintah bagaimana menunjang keamanan perbatasan.

Keamanan dunia maya menjadi fokus utama dari Cyber Endeavor, seminar berbagi informasi tiga-hari, yang berbarengan dengan Pacific Endeavor. Empat puluh tiga peserta dari 17 negara menghadirinya.

Para pejabat komunikasi senior dari Sri Lanka meminta agar PACOM membuat program multilateral terpisah untuk mendidik para sekutu dan mitra tentang keamanan dunia maya. “Kami berusaha untuk membuat para hadirin menyadari pentingnya keamanan dunia maya sehubungan dengan pertahanan nasional dan pemulihan bencana,” dikatakan oleh Boshan Dayaratne, CEO dari Centre for Integrated Communication Research and Advocacy (CICRA) atau Pusat Riset dan Dukungan Komunikasi Terpadu yang berbasis di Sri Lanka kepada harian Sri Lanka The Sunday Times. “Kami juga menerima umpan balik yang sangat positif dari para hadirin.”

Negara-negara dan pemerintahan harus proaktif sewaktu harus mengidentifikasi dan menghentikan ancaman-ancaman dari dunia maya, dikatakan oleh Dayaratne kepada The Sunday Times. “Pertahanan dunia maya yang reaktif menjadi langkah lebih mahal setelah kerusakan telah terjadi. CICRA mendorong semua sektor dalam sektor umum dan swasta untuk memainkan peranan proaktif serupa dalam hal pertahanan dunia maya.”

Para peserta PE13 juga mengungkapkan minat dalam meneruskan kemitraan dengan Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara dan menjajaki kemitraan dengan Asosiasi Asia Selatan untuk Kerja Sama Regional. Partisipasi dari akademisi, organisasi internasional, LSM, dan industri komunikasi dianjurkan untuk lokakarya PE mendatang. Sersan Penerbang Phil Wansbrough dari Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru mengatakan bahwa prosedur, dan yang terpenting keterikatan, yang dijalin selama lokakarya Pacific Endeavor adalah sangat penting dalam upaya-upaya dunia nyata. Dalam salah satu latihan PE13, Wansbrough menceritakan bagaimana upaya kemanusiaan dikoordinasikan secara efisien setelah gempa bumi besar menghancurkan Christchurch, Selandia Baru, pada bulan Februari 2011.

“Kami mendapatkan banjir tawaran dari negara-negara di seluruh dunia,” katanya. “Amerika Serikat akan membawa jenis radio tertentu, dan Jepang akan membawa beberapa juga. …Kami tahu bahwa peralatan mereka akan sesuai dengan peralatan kami. Kami dapat memastikan hal itu. “Dengan bekerja sama dalam Pacific Endeavor, kami sedang membangun persamaan dalam hubungan dengan negara-negara lain tersebut. Ketika terjadi bencana lain, yang tak terhindarkan, kami yakin kami dapat bekerja sama dengan setiap negara ini.”



Share :
ITALIC Solution
IT - Consultant

© ITALIC Solution - Development Team
Jakarta - Indonesia